Minggu, Februari 27, 2011

Wanagama I

 A. Selayang Pandang
Arti kata wana = hutan, gama = gajah mada, Berarti Hutan Gadjah Mada. Hutan Wanagama merupakan sebuah kawasan hutan lindung seluas 600 hektar di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Tujuan utama dibangunnya kawasan Wanagama adalah untuk mencari model cara menanggulangi kekritisan tanah di Gunungkidul. Di samping itu, hutan ini juga difungsikan sebagai hutan pendidikan dan penelitian lapangan bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Pada awal pembangunannya, Wanagama merupakan bukit gundul yang gersang dan tandus.
Hutan yang ikut serta berperan menghijaukan Gunungkidul ini, mulai dirintis pada tahun 1964 oleh Prof. Oemi Hani’in Suseno, salah satu akademisi kampus UGM. Dengan bermodal uang pribadi, guru besar peraih anugerah Kalpataru tersebut, menanami berbagai pohon di Wanagama yang pada saat itu hanya seluas 10 hektar. Mulanya, bersama seorang warga setempat, Wagiran, Prof. Oemi menanam dan merawat beberapa Pohon Murbei (Morus alba). Tanaman ini dipilih karena daunnya dapat dimanfaatkan sebagai makanan ulat sutera dan tidak mudah rontok. 
Kemudian secara bertahap masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam program itu. Mereka diberi pekerjaan untuk memetik daun murbei yang kemudian dibeli oleh pihak pengelola hutan seharga 1 ringgit (Rp 2,50) per kg. Daun tersebut digunakan sebagai pakan budidaya ulat sutera. Dari hasil penjualan kepompong itulah, modal pengembangan diperoleh. Usaha tersebut membuahkan hasil dan mendapat perhatian dari Direktorat Kehutanan, sebagai pemilik lahan. Lahan penghijauan pun diperluas menjadi 79,9 hektar. Dari waktu ke waktu, target lahan penghijauan terus diperluas dan kini luasnya mencapai 600 hektar yang terbagi dalam 9 petak.
Selain penanaman Pohon Murbei, upaya penghijauan juga dilakukan dengan teori pembelukaran. Prof. Oemi dan tim juga melakukan upaya penanaman jenis tanaman pionir sebanyak mungkin, yang mampu memperbaiki kondisi tanah, tata air, dan iklim mikro. Tanaman pionir yang didominasi jenis legum tersebut dipahami memiliki kemampuan mengikat nitrogen di udara sehingga sanggup menyuburkan tanah. Di samping itu, kesuburan tanah juga didongkrak dari tumpukan biomassa humus yang berasal dari pembusukan daun. Hasil dari teori pembelukaran ini baru bisa dinikmati setelah kurun waktu 10-15 tahun.
Selain itu, ada sekitar 30 jenis burung yang menghuni Wanagama. Burung-burung ini menjadi perhatian tersendiri ketika menjadi mediator bagi penyebaran tunas-tunas cendana. Selain Pohon Murbei, Pohon Cendana juga dipilih dalam program penghijauan Wanagama. Namun, berhubung kondisi tanah di Kabupaten Gunungkidul kurang mendukung, pohon-pohon cendana yang ditanam banyak yang mati. Menurut penuturan pengelola, yang tersisa waktu itu hanya sekitar 10 pohon. Beberapa tahun kemudian, Prof. Oemi dikejutkan dengan munculnya tunas-tunas cendana baru yang tersebar tak merata. Ketika diteliti, semua itu hasil kerja burung-burung yang memakan biji-biji cendana dan membuangnya sembarangan ketika buang kotoran.
Hutan Wanagama, sebuah kawasan yang merupakan cerminan kepedulian kepada alam, potensi wisata, dan penunjang ekonomi masyarakat sekitar. Penghijauan dengan konsep pembelukaran di Hutan Wanagama ini telah diadopsi dan menjadi rujukan penghijauan bagi daerah tandus lainnya. Fakultas Kehutanan UGM sebagai pengelola Hutan Wanagama, saat ini sedang menata ulang kawasan hutan seluas 600 hektar ini agar lebih menarik sebagai obyek wisata.
B. Keistimewaan
Memasuki kawasan Hutan Wanagama kita seperti sedang berada di miniatur hutan yang berisikan banyak tanaman dari berbagai daerah. Terdapat barisan jenis pepohonan yang akan menemani perjalanan menyusuri hijaunya Wanagama. Dimulai oleh Pohon Akasia, pohon penghasil bubur kayu yang menjadi primadona banyak perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri) di Indonesia. Dilanjutkan dengan Pohon Kayu Putih, tanaman yang terkenal dengan minyak atsiri yang berkhasiat untuk menghangatkan badan. Selain itu ada juga barisan Pohon Pinus (Pinus Merkusii). Deretan pohon yang banyak ditemukan di Sumatera bagian tengah ini cukup meneduhkan kala matahari bersinar dengan teriknya.
Wanagama masih memiliki banyak pepohonan, misalnya Pohon Eboni (Diospyros Celebica) dari Sulawesi, Pohon Cendana (Santalum Album), dan Pohon Murbei (Morus Alba). Sebelum memasuki kawasan Wanagama, pengunjung sudah disambut oleh suburnya ladang penduduk sekitar (Desa Kemuning, Ngleri, maupun Banaran).
Memasuki pintu gerbang kawasan Wanagama, nampak kawasan peternakan Ulat Sutera di kiri jalan. Dalam sebuah bangunan yang baru selesai direnovasi, terdapat ratusan ulat sutera dengan beberapa kepompongnya yang putih seperti kapas. Selain itu terdapat pula beragam jenis binatang unggas, kera, serta binatang reptilia. Lengkapnya, Hutan Wanagama juga telah menjadi habitat bagi lebih dari 40 jenis fauna dan tidak kurang dari 1.000 flora.
Hutan Wanagama ini, memiliki satu pohon yang membuat tempat wisata ini mendunia. Tanaman itu adalah Pohon Jati (Tectona Grandis) yang ditanam Pangeran Charles saat berkunjung ke Wanagama pada tahun 1989. Konon, terdapat hubungan unik antara pohon yang terkenal dengan sebutan Jati Londo ini dengan pernikahan Pangeran Charles dan Putri Diana. Saat bertinggi 1 m, pohon ini mengering berbarengan dengan pengumuman perpisahan pasangan Kerajaan Inggris tersebut. Entah apakah si Pohon Jati ikut berduka atas perceraian penanamnya.
Selain Jati Londo, Pangeran Charles juga meninggalkan rute yang menjadi favorit para pengunjung Wanagama. Rute tersebut berawal dari Wisma Cendana dan berakhir di Bukit Hell. Jalan menuju bukit itu hanya sepanjang 50 meter yang di kanan-kirinya terdapat banyak Pohon Cendana. Jati adalah salah satu jenis pohon yang paling banyak terdapat di Wanagama. Tanaman ini terkenal karena keawetan dan kekuatannya.
Suasana malam di hutan ini juga tak kalah menarik. Ketika malam mulai menggayut di sela pepohonan, kesunyian Wanagama dipecahkan oleh paduan suara jangkrik dan serangga lainnya. Meski begitu, tak sedikit pun terasa keangkerannya. Air dan listrik juga tersedia dalam jumlah yang mencukupi. Bagi yang senang tinggal menyatu dengan alam, terdapat pula bumi perkemahan.
Sebagai kawasan yang bisa dikembangkan jadi obyek wisata ekologi, Wanagama juga bisa menjadi sarana belajar untuk mengenal pepohonan. Keistimewaan tersebut tentu saja dapat dijadikan pelengkap mata rantai bagi wisatawan di Kabupaten Gunungkidul. Sebab, Hutan Wanagama dekat dengan objek wisata andalan Gunungkidul lainnya seperti Pantai Baron, Pantai Krakal, Pantai Kukup, Gua Bribin, Wot Lemah, serta Gua Lawa.
   
Hutan Pendidikan dan Penelitian Wanagama I
Pada tahun 1926, hutan-hutan alam di daerah Gunung Kidul telah habis ditebang, selanjutnya tahun 1927 pernah dicoba penanaman jati, namun pada tahun 1948 telah kosong kembali. Percobaan penanaman tahun 1954 - 1958 pun tidak berhasil dengan baik. Pada tahun 1963 mulai ditanami murbai yang direncanakan dicampur dengan pinus.
Pada tahun 1967, Dinas Kehutanan menyerahkan pengelolaan petak 5 seluas 79,9 Ha kepada Fakultas Kehutanan UGM untuk dikelola atau dihutankan kembali, dan diberi nama “Wanagama I”.
Pada tahun 1982, luas Wanagama I dimekarkan menjadi 599,7 Ha yang terdiri dari petak 5, 6, 7, 13, 14, 16, 17, dan 18. Petak 6 dan 7 terletak di Kecamatan Patuk dan petak-petak lainnya masuk wilayah Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul.
Misi yang diemban Wanagama I adalah :
  • Wanagama I sebagai hutan pendidikan dan penelitian
  • Wanagama I sebagai hutan percontohan
  • Wanagama I sebagai wahana penyuluhan
  • Wanagama I sebagai hutan wisata dan wisata ilmiah
Dari keempat misi tersebut, saat ini sebagian besar telah terwujud. Di bidang penelitian dan pendidikan, Wanagama I telah mencetak berpuluh sarjana kehutanan, baik S1, S2, maupun S3.
Di bidang penelitian, Wanagama I menjadi pusat uji genetik dan sumber benih, antara lain:
Uji coba Acacia Sp
  • Tegakan benih Acacia mangium
  • Uji provenens E. mophylla
  • Uji keturunan E. mophylla
  • Uji provenens Pinus merkusi
  • Tegakan benih Caliandra callothyrsus
  • Uji species kayu bakar
  • Uji keturunan T. grandis
  • Uji provenus T. grandis
Sebagai tempat percontohan lahan kritis, penyuluhan, dan wisata ilmiah, Wanagama I menjadi kajian studi banding dari Perum Perhutani, Dinas Kehutanan, Mahasiswa, anak sekolah, pramuka, dan tamu-tamu dari luar negeri. Sejak tahun 1987, Wanagama I bekerja sama dengan Mayasari dan Sanggar Bambu membuat paket wisata hutan sehari, dalam rangka menggalakkan bidang wisata berwawasan lingkungan.
Proyeksi pembangunan Wanagama I di masa yang akan datang adalah:
  • Sebagai pensuplai benih unggul pohon-pohon hutan ke berbagai wilayah Indonesia.
  • Mereboisasi daerah-daerah lain yang pedoklimaksnya setipe dengan Wanagama I (Bali, NTB, NTT, Sulteng), agar dapat lebih berhasil.
Hutan Lindung di Kabupaten Gunung Kidul
Kawasan hutan ini masuk dalam wilayah pengelolaan RPH Kedungwanglu, BDH Paliyan, dan RPH Candi, BDH Karangmojo. Kondisi vegetasi hutan lindung di RPH Kedungwanglu sebenarnya merupakan tanaman jati yang bercampur sono keling di petak 105 dan jati dengan campuran Acasia mangium, dan kayu putih di petak 107, sementara hanya berupa tanaman jati di petak 106. Kondisi tanaman hutan berkerapatan rendah dan masuk dalam katagori bertumbuhan kurang dengan tanaman berdiameter kecil. Oleh karena itu kawasan ini telah dilaksanakan penanaman jati dengan program GNRHL untuk tahun 2003 dan 2004, yaitu 52 ha di petak 105 tahun 2003, 23 ha di petak 106 tahun 2004 dan 30 ha di petak 107 tahun 2004 dan 38 ha tahun 2004. Sementara itu kondisi hutan lindung di RPH Candi juga dalam keadaan yang bertumbuhan kurang, sehingga dilakukan program penanaman melalui proyek GNRHL sejak tahun 2003 dan 2004 dengan tanaman jati yang sebagian dicampur dengan mahoni, dan acasia.

Taman Hutan Raya Bunder Playen
Kerusakan alam juga melanda kawasan Hutan Bunder yang terletak di Desa Gading, Kecamatan Playen. Usaha penghijauan kembali kawasan Gunung Kidul dilakukan Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY bersama UGM tahun 1966, berawal dari program reboisasi Hutan Wanagama I. Wilayah Hutan Bunder tak luput dari usaha tersebut.Tahun 2004, fungsi Hutan Bunder seluas 617 hektar sebagai hutan produksi diubah menjadi kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) untuk tujuan penelitian, budidaya, pariwisata, budaya, dan rekreasi. Kini hamparan hijau pohon rimba tumbuh rindang dan memberikan kesejukan udara di Tahura Bunder. Aroma khas tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendra) sebagai ekosistem utama di hutan itu, serta kicauan cucak kutilang (Picnonotus aurigaster) dan kepodang (Oriolus chinensis) menjadikan lokasi ini nyaman ketika berkendara melintasi Jalan Raya Wonosari-Yogya.
Di “rest area” Tahura Bunder, pengunjung dapat beristirahat sambil menikmati mi hangat atau menyantap sayur lombok hijau dan beras merah - makanan khas Gunung Kidul - di sejumlah warung makan milik penduduk setempat. Jalan selebar empat meter di antara arena bermain dan area parkir menjadi pintu masuk jalur wisata alam kawasan Tahura Bunder. Sekitar 1,5 km dari jalur masuk yang terletak di sisi selatan Sungai Oyo, pengunjung akan mencapai unit persemaian bibit tanaman Tahura Bunder seluas lima hektar. Bibit yang dikembangkan antara lain tanaman jati, mahoni, kayu putih, sukun, dan jambu mete, untuk program reboisasi dengan produksi sedikitnya dua juta bibit per tahun.
Di sebelah timur area persemaian terdapat penangkaran rusa timor (Cervus timorensis) seluas enam hektar. Sekitar 1,5 km ke arah selatan dari kawasan penangkaran rusa, pengunjung dapat melihat penyulingan minyak kayu putih di pabrik yang berdiri tahun 1980-an. Lebih kurang 500 meter ke arah selatan terdapat lokasi “camping ground” Tahura Bunder, yang berada di antara pohon jati. Setelah menikmati wisata alam di Tahura Bunder, sebagai cendera mata, pengunjung dapat membeli madu hasil peternakan lebah masyarakat setempat.

 Source :
1. http://persakijogja.blogdetik.com/hutan-diy/
2. http://www.jogjatrip.com/id/543/hutan-wanagama
3. http://richmountain.wordpress.com/pelestarian/wanagama/
Maaf saya belum membaca buku edisi terbaru tentang Wanagama, just share it :)) n I like it very much..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment ya..please..hehe..nuwun